Informasi Berita Terkini

KATA MUTIARA BIJAK MATA NAJWA TERBARU

KUMPULAN TERBARU KATA KATA MUTIARA BIJAK MATA NAJWA METRO TV seperti biasanya sebelum melanjuutkan membaca berita paling baru dari kami alangkah baiknya baca juga berita paling menarik sebelumnya yaitu Yang Mempopulerkan dan Pencipta Lagu Kereta Malam adalah Seorang Raja dan Ratu . Oke mari kita lanjut ke berita Utama yaitu Kata Bijak Mata Najwa yang anda bisa simak di bawah ini ::

Tokoh perubahan datang alamiah, tanpa kosmetik dan permainan citra.

Tercipta bukan polesan sesaat, namun kiprah dan pengakuan orang banyak.

Mereka tidak besar dari atap menara, tetapi mengakar dari bawah.

Karakter mereka hasil tempaan, bukan jatuh dari langit kekuasaan.

Karya mereka dibangun dalam sunyi, dengan ikhlas karena cinta pada negeri.

Mereka muncul melawan arus, mendobrak kemapanan yang terlanjur serius.

Mereka datang membuat perbedaan, bukan pelan-pelan menumpuk jabatan.


Kata Kata Bijak Mata Najwa Tentang Korupsi


Di Indonesia sudah menjadi biasa, melihat warga terlunta-lunta.

Layanan publik dibisniskan, urusan warga jadi dagangan.

Orang miskin jadi korban, lantaran dianggap hanya diam.

Pelayanan jadi sapi perah, kewajiban terlacur menjadi hadiah.

Kesadaran publik lama absen, saat warga dimaknai sebagai konsumen.

Birokrasi menjadi pemangsa, seiring lenyapnya daulat warga.

Pejabat publik tutup mata, uang haram tak lagi berdosa.

Sekeras itu hukum dibuat, sepandai itu pula praktek muslihat.

Hukum yang ditegakkan dengan retorika, hanya jadi bahan tertawa belaka.


Demokrasi tanpa para demokrat, membuat kuasa miskin legitimasi rakyat.

Pemilukada jadi urusan pecah-belah, ketika politik hanya soal menang-kalah.

Yang menang berlaku curang, yang kalah tak mau menerima kenyataan.

Kekerasan terpilih sebagai cara, hukum dilecehkan amuk massa.

Elit berlaku bak raja, warga berposisi bagai hamba kawula.

Hak politik diubah seperti hadiah, kewajiban dibuat sebentuk kebaikan.

Pemilih disiapkan menjadi tameng massa, membela elit yang bersengketa.

Ketika konflik berdarah kerap berulang, itu berarti kita hidup di negara yang bebal.


Kisah politik & kuasa, tak pernah lepas dari dukun dan dupa.

Semakin instan hidup bergerak, semakin marak dukun bertindak.

Fenomena klenik menguat, seturut egoisme politik yang mencuat.

Dunia santet dirambah, untuk sejengkal kuasa yang durhaka. 

Jabatan menjadi berhala, ketika penguasa lebih sayang dukunnya.

Kekuasaan menjadi permainan, saat takhayul dilembagakan.

Obsesi jabatan yang kekal, mendekatkan penguasa ke paranormal.

Nasib rakyat sering terlupa, sebab kepada dukun mereka percaya.


Politik tak pernah abadi, Politisi bisa berkali-kali mati dan hidup lagi.

Sekarang ini jaman melodramatik, Politik intrik seolah begitu menarik.

Layaknya sinetron penuh tangis, tokoh politik berebut peran menjadi sang protagonist.

Yang piawai membangun opini, akan merebut simpati dan memenangkan persepsi.          

Para elit menghaluskan caci-maki, tentang sengkuni dan perasaan terzalimi.

Membungkus serangan bersayap, Menyingkirkan lawan lewat kekuasaan.

Bisakah para elit penguasa, mengolah konflik politik secara dewasa.

Begitu banyak energi publik habis, oleh suguhan politik yang picis.

Hidup rakyat sudah terlalu susah, yang diatas malah mengumbar masalah.


Wajah penjara cermin hukum negara, sungguh-sungguh atau pura-pura.

Penjara semestinya nestapa dunia, bukan sebisanya menjadi surga.

Koruptor harusnya menyesal & sadar, bukan malah kembali melanggar.

Hukum yang memuat harga, mengubah lapas jadi persinggahan mewah.

Koruptor menjadi napi, menyulap fasilitas bui hanya soal transaksi.

Ikhtiar serius untuk membenahi, tentu perlu diapresiasi.

Tidak mungkin satu Wakil Menteri, bekerja seorang diri.

Sistem yang mudah terbeli, tak akan berubah hanya dengan rajin inspeksi.

Buat apa memberantas korupsi, jika bui sejati hanya untuk kelas teri.


 Kekerasan semakin berjaya, di hadapan negara yang tak berdaya.

Politik identitas mengeras, perbedaan ditingkahi dengan fatwa sesat.

Ketegangan agama & negara, membutuhkan pemimpin berwibawa.

Negarawan yang taat konstitusi, bukan menyerah pada selera politisi.

Bijak mengelola perbedaan, dalam kerukunan dan bukan permusuhan.

Indonesia menjadi mengerikan, saat kaum intoleran terus dibiarkan.

Seorang penjaga toleransi, mendahulukan rekonsiliasi dari relokasi.

Toleransi tidak tegak karena penghargaan, melainkan tegasnya tindakan.


Soekarno sosok gegap-gempita, presiden yang tak lekang oleh masa.

Dia adalah jendela Indonesia, menyatu dengan nasib bangsa-bangsa terjajah.

Dalam usia begitu muda, bersama Hatta mengobarkan kehendak merdeka.

Diplomasinya begitu berkelas, dia & Indonesia seperti satu tarikan nafas.

Sang ideolog dalam wujud nyata, pemikir dalam sikap otentik yang terjaga.

Terlahir dengan selera mendunia, pengagum wanita tanpa pura-pura.

Dalam politik yang terlahir durhaka, Bung Karno mati sebagai tahanan kota.

Begitu mudah dicintai rakyatnya, dalam kebenaran & kontroversi hidupnya.

Itulah Beberapa Kata Bijak Mutiara Mata Najwa Tentang Korupsi di Metro TV

KATA MUTIARA BIJAK MATA NAJWA TERBARU Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Wahyu N Arifin